Chick-fil-A memperkenalkan perubahan besar pada tahun 2026, termasuk kemunduran pada branding awalnya dan lini baru minuman pencuci mulut yang terinspirasi oleh tren viral “soda kotor”. Jaringan restoran cepat saji ini akan meluncurkan kemasan vintage, undian untuk makanan gratis, dan minuman bersoda dan pelampung sebagai item menu permanen.
Branding Berbasis Nostalgia
Untuk merayakan hari jadinya yang ke-80, Chick-fil-A merilis desain kemasan retro untuk kotak goreng wafel, tas sandwich, cangkir, dan tas bawa pulang. Kemasannya terinspirasi dari tampilan asli perusahaan pada tahun 1950-an. Empat cangkir edisi kolektor akan tersedia masing-masing seharga $3,99, dengan desain baru yang dirilis secara berkala. Sebuah kontes akan memberikan Chick-fil-A gratis selama setahun kepada 3.000 pelanggan yang membeli Piala Penggemar Emas khusus.
Fenomena ‘Soda Kotor’
Chick-fil-A juga memanfaatkan tren “soda kotor” dengan memperkenalkan soda beku dan minuman ringan. Minuman ini menggabungkan soda air mancur dengan sajian lembut Icedream dari rantai tersebut. Soda beku adalah campuran soda dan es krim yang dipintal dengan tangan, sedangkan pelampung melapisi kedua bahan tersebut. Tren ini mendapatkan popularitas melalui acara seperti Kehidupan Rahasia Istri Mormon, di mana minuman manis non-alkohol yang disesuaikan dengan selera menjadi perlengkapan budaya.
Mengapa Ini Penting
Langkah Chick-fil-A menyoroti semakin pentingnya nostalgia dalam pemasaran. Dengan bersandar pada sejarahnya, jaringan ini berupaya memperkuat loyalitas merek dan menarik pelanggan baru. Penerapan tren “soda kotor” menunjukkan bagaimana perusahaan makanan cepat saji beradaptasi dengan preferensi konsumen yang didorong oleh media sosial. Tren ini sendiri mencerminkan pergeseran budaya yang lebih luas menuju pengalaman yang memanjakan dan dipersonalisasi, bahkan dalam batasan pola makan atau gaya hidup.
Chick-fil-A tetap tutup pada hari Minggu, meskipun permintaan konsumen untuk perpanjangan jam kerja terus berlanjut. Keputusan ini tetap konsisten dengan keyakinan agama sang pendiri dan terus membentuk identitas merek.
