Kesenjangan Generasi: Apa Kata Kakek Nenek Tentang Pola Asuh Modern

8

Cara anak-anak dibesarkan selalu berkembang, beradaptasi dengan penelitian baru, perubahan budaya, dan bahkan reaksi terhadap pendekatan generasi sebelumnya. Orang tua masa kini – terutama kaum Milenial dan Generasi X yang lebih tua – cenderung lebih berhati-hati dalam mengasuh anak dibandingkan orang tua mereka sendiri, karena mereka memiliki akses terhadap informasi dan nasihat yang belum pernah ada sebelumnya.

Untuk memahami pergeseran generasi ini, kami melakukan survei terhadap kakek-nenek mengenai pandangan mereka terhadap tren pengasuhan anak saat ini. Tanggapan mereka mengungkapkan campuran kekaguman, perhatian, dan nostalgia. Kesimpulan utamanya: meskipun kenyamanan modern dan peningkatan keterlibatan orang tua dihargai, beberapa nilai tradisional seperti disiplin dan tata krama tampaknya mulai memudar.

Kebaikan: Peningkatan Keterlibatan dan Kenyamanan Modern

Kakek-nenek sangat memuji tingginya investasi orang tua dalam kehidupan anak-anak mereka. Salah satu responden, Anne W., menyatakan, “Anak-anak saya begitu menaruh perhatian pada anak-anak mereka, sungguh indah! Mereka 100% lebih baik daripada saya.” Sentimen ini mencerminkan tren yang lebih luas menuju pola asuh yang lebih sadar dan terlibat.

Teknologi modern juga mendapat nilai tinggi. Susan S. dengan masam berkomentar, “Seandainya Amazon masih populer di masa lalu. Pengiriman popok saja akan membuat saya terus bersyukur.” Kemudahan dalam kehidupan modern tidak dapat disangkal meringankan beban menjadi orang tua, sebuah kemewahan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya.

Tren positif lainnya adalah meningkatnya partisipasi ayah. Angela A. mengamati bahwa putri dan menantu laki-lakinya “berhasil memikul separuh beban.” Pergeseran peran gender dalam keluarga ini dipandang sebagai kemajuan yang signifikan oleh banyak kakek-nenek.

Kekhawatiran: Permisif, Tata Krama, dan Durasi Layar

Meskipun mendapat pujian, beberapa kakek-nenek menyuarakan keprihatinan tentang praktik pengasuhan anak modern. Salah satu responden, Marny H., memperingatkan agar tidak mencampuradukkan “pengasuhan yang lembut” dengan sikap permisif, dengan alasan bahwa “Orang yang ingin melakukan pengasuhan yang lembut harus benar-benar mendidik diri mereka sendiri tentang cara kerjanya.” Hal ini menyoroti ketakutan bahwa beberapa orang tua mungkin terlalu toleran tanpa memahami prinsip-prinsip yang mendasari disiplin yang efektif.

Keluhan umum berkisar pada menurunnya tata krama. Ream J. memperhatikan bahwa “mayoritas anak-anak masa kini tidak cukup diatur secara emosional untuk menggunakan sopan santun di restoran.” Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang apakah fokus pada ekspresi emosional telah mengorbankan etika sosial dasar.

Waktu pemakaian perangkat yang berlebihan adalah kekhawatiran lain yang sering terjadi. Susan F. dengan blak-blakan menyatakan, “Terlalu banyak waktu yang dihabiskan di depan telepon!” Kehadiran perangkat digital di mana-mana dan potensi dampaknya terhadap tumbuh kembang anak masih menjadi kekhawatiran banyak orang.

Seruan untuk Keseimbangan: Empati, Kesabaran, dan Keterampilan Dunia Nyata

Beberapa kakek-nenek menyatakan keinginannya agar orang tua memberikan keseimbangan yang lebih baik antara tekanan akademis dan kebebasan masa kanak-kanak. Dawn J. berargumen bahwa “perlombaan ke mana-mana telah membuat anak-anak cemas.” Ia percaya bahwa penjadwalan yang berlebihan dan persiapan yang berlebihan untuk masa depan merampas masa muda anak-anak.

Eric R. memperingatkan terhadap erosi keterampilan hidup yang penting di dunia yang semakin didominasi oleh teknologi: “Di dunia yang akan segera didominasi oleh kecerdasan buatan… kita perlu mengambil langkah mundur untuk dapat mengajarkan kesabaran dan pengertian.” Pernyataannya menggarisbawahi pentingnya menumbuhkan empati, akal sehat, dan kreativitas – kualitas yang tidak dapat digantikan oleh mesin.

Intinya

Kakek-nenek melihat kemajuan yang jelas dalam pola asuh modern – keterlibatan yang lebih besar, tanggung jawab bersama, dan akses terhadap kenyamanan. Namun, mereka juga khawatir akan menurunnya disiplin, tata krama, dan terlalu mementingkan kesuksesan di masa depan sehingga mengorbankan masa kanak-kanak saat ini. Kesenjangan generasi menunjukkan perlunya keseimbangan: memelihara kesejahteraan emosional sambil menjunjung tinggi nilai-nilai dasar rasa hormat, tanggung jawab, dan kesiapan menghadapi dunia nyata.